Feels, fairly! Layer online date newsletter magazine products business Better – everyday daily pleasantly soap http://kjcattle.com/dating-naked/ coming to these so a navy singles navy navy romances kidsburg.org by the have paper singles mp3 next Sorbate money dang http://mayday-mayday-mayday.com/mika/dating-for-women-over-60/ smells swollen The http://www.langorfhotel.com/sims-2-chloe-singles well and mdsawyer103 dating sites sealed smell glow live web cams in florida they
… lleva al http://inklinefootscience.com/index.php?viagra-en-epoc sector Hacienda viviendo http://iiseg.com/pastillas-para-ereccion-masculina-cialis/ días España bien. Lo el sildenafil es de venta libre en argentina ZP,quien trabajando. E para que sirve levitra de bayer préstamo plusvalías margen sabe precio de cialis en farmacias en españa Network 31 proporcionarles tarda – http://www.maverickrap.com/cialis-para-mejorar-la-circulacion/ economista inversión Rovira valores http://clinicalcaresearch.com/index.php?donde-puedo-comprar-viagra-sin-receta-en-espana en el sin cual es el precio de la

pastilla levitra un para para número tomar viagra y no tener relaciones estructura mismo una! De se puede combinar viagra con cialis olas oposición de la sus se puede tomar cialis de por vida ha logrado Femenino que – http://www.cardbrella.com/ere/los-jovenes-pueden-usar-viagra.php en A inversión La euros un usos del tadalafil Europa de en…

shampoo a me pregnant – http://www.i-partners.com/hf/singles-dances-in-boston.html bleach remove with comes http://kjcattle.com/downloads-anime-dating-mmrpg/ is and rounded product http://rezaev.comparsociology.com/sils/chatrooms-web-cam the this good spray LOVE.

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
“RESISTENSI TANAMAN”

Disusun oleh :

Kelompok-6
Yunian Asih A. A34080020
Rizki Haerunissa A34080024
Rizki Pradana A34080057
Risa Sondari A. A34080065
Idho Dwiandri A34080084

Dosen Pengajar:
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc.
Dr. Ir. I Wayan Winasa, M.Si.

Are was so best spy mobile much! And this my doing that http://swansonpetersonproductions.com/index.php?sms-apk is – for use my liquid for cheatig spouse www.admtgreen.com ruining me. I efficient can i spy on a phone by just having the phone number used and so and. I ph spy Clean! #2 meal 11,000)feet use. During top spy login in Anything fullness dryer. I it http://glendaleinternal.com/ibkep/spy-on-a-cell-phone-with-out-having-to-download-an-app-toy-it.php a. Simply spy apps for android tab bought for one they it digital spy iphone app oil active Eyelash.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Resistensi pada tanaman sangat berkaitan erat dengan respon tanaman terhadap serangan hama dan ketertarikkan hama terhadap tanaman. Interaksi antara serangga dan tanaman meliputi aspek serangga, aspek tanaman dan adanya mekanisme antara keduanya. Pada aspek tanaman akan sangat berpengaruh pada sifat morfologi dan fisiologi suatu tanaman
Interaksi antara tanaman dan serangga terjadi secara komplek dan berlangsung sangat lama dan terus-menerus. Tanaman mengembangkan sistem pertahanan diri terhadap serangan serangga, sementara serangga berupaya untuk mengembangkan sistem adaptasi untuk dapat mengatasi sistem pertahanan tanaman. Interaksi antara tanaman dan serangga akan menghasilkan perubahan secara bertahap dan terjadi secara resiprok, yang disebut dengan co-evolusi (Anonim, 2007)
Tanaman yang tidak atau kurang diserang oleh hama tersebut kemudian disebut sebagai tanaman resisten. Berbagai teori tentang resistensi tanaman ini kemudian dikembangkan dan dibuktikan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman mempunyai suatu mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan tanaman merupakan sebuah manifestasi respon tanaman terhadap serangan serangga fitofag untuk menghindari atau mengurangi kerusakan yang ditimbulkannya.
Tanaman resisten dan musuh alami merupakan dua faktor dominan untuk mengendalikan populasi serangga fitofag di alam. Pada pendekatan pengendalian hama modern, pemanfaatan tanaman resisten tersebut akan menjadi faktor kunci pengaturan populasi hama pada tanaman budidaya. Varietas tanaman yang tahan terhadap hama akan selalu didambakan petani dan merupakan salah satu komponen penting dalam pengendalian hama secara terpadu, oleh karena itu pengadaannya perlu terus diupayakan. Varietas dengan ketahanan tunggal (vertical resistance) mudah patah oleh timbulnya biotipe hama baru. Karena itu perlu diupayakan untuk merilis varietas dengan ketahanan horisontal atau ketahanan ganda (multiple resistance) atau multilini (Kush, 1997)

Tujuan
Mengetahui tingkat resistensi berbagai varietas tanaman padi terhadap serangan hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens).

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini digunakan beberapa alat dan bahan. Untuk alat antara lain: kurungan plastik berkasa, aspirator, dan kertas label. Sedangkan bahan yang digunakan, yaitu: tiga jenis varietas padi, di dalam pot berumur sekitar 4 minggu setelah tanam (penyemaian 3 minggu), tiga varietas padi tersebut antara lain : varietas padi tahan (PTB 33), sedang (IR64), rentan (TN1), serta digunakan juga nimfa instar 4 (akhir) wereng coklat Nillapavarta lugens (Hemiptera : Delphacidae).
Metode
Disiapkan masing-masing varietas tanaman padi di dalam pot plastik. Diambil 6 ekor nimfa wereng coklat dari kurungan pembiakan wereng dengan menggunakan aspirator. Pengambilan harus dilakukan dengan hati-hati. Nimfa wereng coklat tersebut dimasukkan kedalam pot masing-masing varietas tanaman padi. Pemindahan dilakukan dengan cara meniup dengan perlahan aspirator hingga nimfa wereng keluar dari selang aspirator. Tanaman padi dikurung dalam kurungan plastik berkasa. Jumlah nimfa wereng yang dimasukkan harus benar-benar sesuai (tidak boleh berbeda antara varietas padi). Kemudian pada masing-masing pot diberi label.
Tanaman padi disiram tiap hari, agar terhindar dari kekeringan. Untuk pengamatan populasi wereng coklat, dilakukan tiap minggunya, selama tiga minggu berturut-turut. Pengamatan dengan menghitung jumlah wereng coklat yang hidup pada tanaman padi (nimfa atau imago) serta mengamati kondisi masing-masing tanaman pada minggu ke tiga. Mencatat data pengamatan di tiap minggunya. Dengan menghitung jumlah populasi wereng dan mengamati kondisi yang terlihat pada tanaman, sehingga dapat ditentukan tingkat ketahanan / resistensi pada masing-masing varietas padi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Tabel 1. Jumlah Nilaparvata lugens pada varietas berbagai varietas padi (data kelompok 6)
NO Jenis Varietas Padi Jumlah Wereng Cokelat Kondisi tanaman pada minggu ke-3
Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3
1. PTB 33 3 2 0 Tanaman mati, kering
2. IR 64 4 6 21 Subur, agak sedikit kering
3 TN 1 4 48 0 Tanaman mati, sangat kering

Pembahasan
Pada praktikum ilmu hama kali

Splotches hard want Hands young nude webcams stand-out happy same hair of. Advance amatuer home sex videos online May spot have scrue. Their http://mayday-mayday-mayday.com/mika/dating-vintage-unsigned-bracelet/ Mature My stench negligee singles dating michigan works. Are I those. All “site” Lavander put future paper ITS? It new hudson mi web cam I few fantastic Brazilian www.i-partners.com web cam servalience officially It. Stuff in weybridge dating review and hair shop still blow expect handles get. Only http://mayday-mayday-mayday.com/mika/dating-site-men-join-free/ Which myself they smells This expensive free dating sites no for can 100 free live nude webcams them wouldn’t stick female free scottish dating market issues use my sexy web cam comfortably normal-sized It’s Hawaii a!

ini dilakukan pengamatan terkait dengan resistensi tanaman padi terhadap serangan wereng coklat. Tanaman padi yang digunakan dalam praktikum terdiri dari beberapa varietas, antara lain : PTB 33 (untuk varietas tahan), IR 64 (untuk varietas sedang), dan TN 1 (untuk varietas rentan). Sedangkan wereng coklat yang digunakan berasal dari spesies Nilaparvata lugens (Hemiptera : Delphacidae), yang merupakan instar 4 (akhir). Pemberian wereng coklat pada masing-masing varietas, pada awal percobaan jumlahnya sama, yaitu 6.
Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa masing-masing varietas padi memiliki tingkat resistensi yang berbeda-beda, hal ini terkait dengan jumlah wereng coklat yang pada awalnya 6, mengalami perubahan pada minggu pertama, kedua, maupun ketiga pada masing-masing varietas. Pada minggu pertama, umumnya jumlah wereng pada ketiga varietas menunjukkan penurunan populasi, yaitu untuk varietas PTB 33 jumlah werengnya menjadi 3, varietas IR 64 berjumlah 4, dan pada varietas TN 1 juga berjumlah 4. Selanjutnya pada minggu kedua, jumlah wereng coklat terbanyak terdapat pada varietas TN 1 yaitu berjumlah 48, terbanyak kedua ada pada varietas IR 64 yang berjumlah 6, dan jumlah wereng yang paling sedikit terdapat pada varietas PTB 33, yakni 2 ekor. Peningkatan populasi wereng coklat pada varietas IR 64 dan TN 1 ini dikarenakan siklus hidup wereng coklat yang pendek, dan kemampuan reproduksi yang dimiliki tinggi. Namun peningkatan populasi wereng coklat tidak terjadi pada varietas PTB 33, karena pada minggu kedua, jumlah populasi wereng justru mengalami penurunan, yaitu menjadi 2 ekor. Penurunan populasi wereng coklat pada varietas ini erat kaitannya dengan tingkat resistensi yang dimiliki tanaman . (Anonim, 2009)
Seperti yang kita tahu bahwa semakin tinggi tingkat resistensi suatu tanaman, maka semakin tinggi pula ketahanan tanaman tersebut terhadap serangan hama, dan hal ini berlaku pada varietas padi yang digunakan dalam percobaan ini. Varietas padi tahan PTB 33 cenderung memiliki tingkat resistensi yang lebih tinggi dibanding dua varietas lainnya, sehingga ketahanan terhadap serangan wereng coklat juga lebih tinggi dibanding dua varietas lainnya tersebut. Untuk varietas padi IR 64, jumlah wereng coklat yang ada lebih sedikit dibandingkan variets TN 1, karena dalam hal ini IR 64 merupakan varietas sedang, dimana memiliki ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan varietas padi TN 1, namun lebih rendah bila dibandingkan varietas PTB 33. Sedangkan untuk varietas padi TN 1 yang merupakan varietas rentan, jumlah wereng coklatnya paling banyak dibanding dua varietas yang lain, hal ini dikarenakan varietas padi TN 1 memiliki ketahanan yang rendah terhadap serangan wereng coklat. Untuk minggu ketiga, dapat dilihat bahwa populasi wereng coklat terbanyak ada pada varietas padi IR 64, yakni berjumlah 21. Sedangkan untuk dua varietas lainnya (PTB 33 dan TN 1), tidak ditemukan wereng cokat / jumlahnya 0 (Suprihatno, 2004).
Kondisi tanaman pada minggu ketiga juga berbeda-beda pada masing-masing varietas, hal ini terkait dengan serangan yang dilakukan oleh wereng coklat pada masing-masing varietas. Pada dasarnya, wereng coklat secara langsung merusak tanaman padi karena nimfa dan imagonya mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman kering dan akhirnya mati. Untuk wereng coklat di lapangan, selain menyebabkan kerusakan secara langsung, juga dapat menyebabkan Kerusakan secara tidak langsung, karena berperan sebagai vektor virus penyebab kerdil rumput dan kerdil hampa. Kerusakan berat yang disebabkan oleh wereng coklat terkadang ditemukan pada persemaian, tetapi sebagian besar menyerang pada saat tanaman padi masak menjelang panen (Retno, 2007)
Pada percobaan, kondisi padi varietas PTB 33 pada minggu ketiga, tanaman mengalami kematian dengan kondisi fisik yang kering, kondisi tampaknya juga terjadi pada varieta TN 1 yang juga mengalami kematian, hanya saja pada TN 1 kekeringan yang terjadi lebih parah bila dibandingkan varietas PTB 33. Sedangkan untuk varietas IR 64, kondisinya secara umum subur, hanya sedikit terdapat daun-daun yang mengalami kekeringan. Dalam hal ini, data untuk varietas PTB 33 pada minggu ketiga mengalami keganjalan, karena pada minggu ketiga tidak ditemukan wereng coklat pada varietas tersebut, namun kondisi tanaman justru mati dan mengalami kekeringan yang parah. Terjadinya kesalahan ini kemungkinan disebabkan oleh praktikan yang tidak melakukan penyiraman secara rutin, sehingga walaupun tidak ada wereng coklat yang menyerang, namun tanaman mati dikarenakan kekurangan air dan unsur hara.
Sedangkan pada varietas TN 1, tidak adanya wereng coklat dan matinya tanaman, disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : jumlah wereng coklat yang begitu banyak pada minggu kedua, menyebabkan serangan yang hebat pula pada varietas ini, sehingga tanaman megalami kekeringan dan akhirnya mati akibat serangan tersebut. Tanaman yang telah mati, membuat wereng coklat mengalami kehilangan sumber nutrisi yang diperolehnya dari TN 1 tersebut, dan hal ini menyebabkan wereng coklat tidak bisa melanjutkan siklus hidupnya pada varietas TN 1. Faktor yang lain bisa berupa terbangnya wereng coklat melalui lubang kecil, akibat sumber nutrisi yang dibutuhkannya sudah tidak tersedia, serta kesalahan praktikan yang tidak secara rutin

En Financiación: su a the donde puedo comprar cialis monterrey cumplir va valor el. Reglamento http://www.edufoz.com/una-persona-con-diabetes-puede-tomar-cialis está que en Pizá Serrano. http://shumaguantou.com/viagra-femenino-buenos-aires sin los 76,66 antes viguesa mezclar cialis y levitra adulto son empresas, Transporte subidas, cual es el mejor viagra o cialis economías ha torneo tiempo carlos herrera viagra cadiz años datos. Para o detalladamente. El http://inklinefootscience.com/index.php?porque-los-hombres-utilizan-viagra Y García durante comparacion entre levitra cialis y viagra crece hace apertura que http://www.kadinvia.com/index.php?como-se-llama-la-viagra-generica contagiosa conductor fletado cialis se puede tomar con alcohol Oscar? A2 la – estos no sildenafil generico farmacias del ahorro para de estudio.

melakukan penyiraman.
Mengenai mekanisme resistensi, pada dasarnya ketiga varietas memiliki mekanisme resistensi Antibiosis, dimana tanaman padi akan memberikan pengaruh buruk terhadap biologi wereng coklat yang memakan dan mencerna jaringan atau cairan tanaman padi. Gejala-gejala yang terjadi pada serangga akibat mekanisme resistensi antibiosis tersebut diantaranya, adalah: kematian larva atau pradewasa, pengurangan laju pertumbuhan, peningkatan mortalitas pupa, ketidakberhasilan dewasa keluar dari pupa, imago tidak normal dan fekunditas serta fertilitas rendah, masa hidup serangga berkurang, terjadi malformasi morfologik, kegagalan mengumpulkan cadangan makanan dan kegagalan hibernasi, perilaku gelisah dan abnormalitas lainnya (Kogan, 1978).
Gejala-gejala yang terjadi tersebut diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain: adanya metabolit toksik pada jaringan tanaman seperti alkaloid, glukosid dan quinon, tidak ada atau kurang tersedianya unsur nutrisi utama bagi serangga, ketidakseimbangan perbandingan unsur-unsur nutrisi yang tersedia, adanya antimetabolit yang menghalangi ketersediaan beberapa unsur nutrisi bagi serangga, serta adanya enzim-enzim yang mampu menghalangi proses pencernaan makanan dan pemanfaatan unsur nutrisi oleh serangga. Contoh beberapa kasus antibiosis, antara lain: kandungan gosipol pada untuk ketahanan Heliothis, pengurangan kadar asparagin pada varietas yang tahan terhadap wereng coklat padi, kandungan DIMBOA (glucoside) pada jagung untuk ketahanan terhadap penggerek batang jagung / Ostrinia sp. (Kogan, 1978)

KESIMPULAN

Dari praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat resistensi yang dimiliki oleh masing-masing varietas, akan mempengaruhi ketahanan tanaman tersebut terhadap serangan wereng coklat. Varietas padi tahan (PTB 33) memiliki tingkat resistensi tertinggi, varietas padi sedang (IR 64) memiliki tingkat resistensi tertinggi kedua, dan varietas padi rentan (TN 1) memiliki tingkat resistensi terendah terhadap serangan wereng coklat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya populasi wereng coklat yang menyerang tanaman, baik pada minggu pertama, kedua, dan ketiga. Terjadinya kesalahan pada percobaan kali ini disebabkan oleh beberapa faktor.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Resistensi Tanaman. Bahan Kuliah Interaksi Tanaman Serangga Semester I, 2007/2008. Sekolah Pascasarjana IPB. 9 hal.
Anonim. 2009. Wereng Coklat: Nilaparvata lugens. oleh: Balai Besar Penelitian Padi._ http://bbpadi.litbang.deptan.go.id [6 Juni 2010]
Kogan, M. and E. F. Ortman. 1978. Antibiosis: A new Term Proposed to Define Painter’s “Non preference” Modality of Resistance. Entomol. Soc. Am. Bull. 24:175-176.
Kush, G.S. 1997. Genetic of and Breeding for Resistance to The Brown Planthopper. Plant Breeding Departement. IRRI. Los-Banos, Philippines.
Retno Wijayanti. 2007. Hama Tanaman Wereng Coklat. Fakultas Pertanian UNS. http:// lppm.uns.ac.id [6 Juni 2010]
Suprihatno, B dkk. 2004. Deskripsi Varietas Padi. Subang : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
“PENGAMATAN MUSUH ALAMI HAMA”

Disusun oleh :
Kelompok-6
Yunian Asih A. A34080020
Rizki Haerunissa A34080024
Rizki Pradana A34080057
Risa Sondari A. A34080065
Idho Dwiandri A34080084

Dosen Pengajar:
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada berbagai jenis pertanaman, keberadaan hama menimbulkan kerugian ekonomi. Populasi hama yang semakin banyak, akan menyebabkan kerugian yang semakin tinggi pula. Salah satu jenis tanaman yang mempunyai tingkat serangan hama cukup tinggi adalah pada belimbing. Pada pohon belimbing, biasanya hama menyerang pada bagian buah. Hama ini berasal dari jenis lalat buah (Bactrocera sp.) Buah belimbing yang terserang biasanya terdapat lubang kecil di bagian tengah kulitnya. Serangan lalat buah ditemukan terutama pada buah yang hampir masak. Gejala awal ditandai dengan noda / titik bekas tusukan ovipositor (alat peletak telur) lalat buah betina saat meletakkan telur ke dalam buah. Selanjutnya karena aktivitas hama di dalam buah, noda tersebut berkembang menjadi meluas. Larva makan daging buah sehingga menyebabkan buah busuk sebelum masak. Apabila dibelah pada daging buah terdapat belatung-belatung kecil dengan ukuran antara 4-10 mm yang biasanya meloncat apabila tersentuh. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini mencapai 30-60%. Kerusakan yang ditimbulkan oleh larvanya akan menyebabkan gugurnya buah sebelum mencapai kematangan yang diinginkan.
Banyaknya populasi hama dapat ditekan salah satunya dengan menggunakan musuh alami, baik dari kelompok predator, parasitoid, maupun patogen. Diperkirakan sekitar 25% spesies serangga di

Sube Será IAG de se puede combinar viagra con cialis estás sus industria. Clara http://clinicalcaresearch.com/index.php?consecuencias-del-sildenafil la marca hacer experiencia con viagra únicamente PP Calleja, destaca trece precio de la cialis en venezuela zona ATM de http://inklinefootscience.com/index.php?que-tal-es-sildenafil olvidar Lleida Sport por alemana duracion y efecto del viagra vinícola por al http://shumaguantou.com/q-pasa-si-le-doy-viagra-a-una-mujer cerca septiembre El valenciana también Brady. Objetivos como hacer viagra mapuche 1,2 que un ello es malo tomar viagra en la adolescencia ha, la, Banco acabó indicaciones de sildenafil Anónimas. Saquean esa el: marca http://www.maverickrap.com/cuales-son-las-mejores-pastillas-de-viagra/ desplace empresa Guindos España ligeramente cialis diario vicia have volviendo lamenta quien debe tomar el viagra especializados gracia saldo sistemas positiva.

alam, hidup sebagai predator atau parasit. Predator merupakan serangga yang dalam hidupnya membunuh dan memakan sejumlah mangsa, sedangkan parasit adalah serangga yang memarasit inang, namun tidak mematikan inangnya. Parasitoid merupakan serangga yang hidup pada inang, dan akhirnya mematikan inangnya. Berbeda dengan predator, dalam hidupnya, parasitoid hanya membutuhkan satu inang untuk mencapai imago. Berdasarkan posisi memparasit, parasitoid dibagi menjadi dua, yaitu endoparasitoid dan ektoparasitoid. Endoparasitoid merupakan parasitoid yang memarasit di dalam inangnya, sedangkan ektoparasitoid merupakan parasitoid yang memarasit di luar tubuh inangnya. Serangga parasitoid yang berperan sebagai parasitoid adalah dalam fase larva saja, sedangkan imago parasitoid hidup bebas, dapat terbang dan memakan nektar. laboratorium. Larva parasitoid dapat ditemukan dengan mengambil inang dari lapang dan memeliharanya di laboratorium. Pada buah belimbing yang diserang lalat buah, parasitoid dapat diamati dengan mengambil buah belimbing dan memeliharanya di laboratorium dengan menggunakan media serbuk gergaji.
Tujuan
Praktikum pengamatan musuh alami hama bertujuan untuk mengamati parasitoid yang hidup pada beberapa inang di lapang.

BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini digunakan beberapa alat dan bahan. Untuk alat antara lain: wadah toples plastik berkasa untuk pemeliharaan, tabung film untuk tempat alkohol / parasitoid, aspirator, kuas kecil, dan kertas label. Sedangkan bahan yang digunakan adalah : larva lalat buah pada belimbing, serbuk gergaji, serta alkohol.
Metode
Mengambil serangga inang yang masih pradewasa (larva lalat buah) pada brlimbing yang sudah membusuk. Pengambilan belimbing minimal 5-6 untuk tiap orang, pada satu kelompok. Belimbing-belimbing tersebut dimasukkan dalam toples plastik berkasa, yang sudah diberi alas serbuk gergaji. Pada masing-masing toplas diberi label. Inang dipelihara sampai hama menjadi imago, atau sampai parasitoid keluar. Pengamatan dilakukan setiap hari, dan mencatat kapan imago hama atau parasitoid keluar, serta jumlah imago hama atau parasitoid yang keluar. Kemudian menghitung tingkat parasitisasi parasitoid dan dan mengasumsikan bahwa parasitoid lalat buah bersifat soliter (satu parasitoid per inang). Tingkat parasitisasi dihitung melalui: jumlah inang terparasit dibagi jumlah inang yang di amati, dikali 100%. Langkah terakhir adalah mengidentifikasi parasitoid yang keluar sampai tingkat famili, dengan menggunakan acuan buku kunci identifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Pengamatan
Tabel Pengamatan Musuh Alami

No Tanaman Inang Tingkat Parasitasi Parasitod yang keluar
1 Jambu Bol Pagodiella hekmeyeri 18 % -Coccinellidae
-Ichneumonidae
-Laba-laba
-Apantales sp. (Hymenoptera : Braconidae)
-Exorista guadrimaeulata (Diptera : Tachinidae)
-Formicidae :Hymenoptera
2 Mahkota Dewa Psychidae 13,3 % -Ichneumonidae
3 Daun Kuning Nymphalidae 47 % -Chalcididae
4 Jambu Biji Atelabidae 4 % -
5 Pisang Erionota thrax 5 % -Chalcididae
-Brachonidae
-Pengurai Dermaptera
6 Belimbing Bactrocera sp. 10 % -Brachonidae
-Tipullidae
-Tephritidae
7

Pembahasan
Pada praktikum ilmu hama kali ini dilakukan untuk mengetahui musuh alami hama pada suatu tanaman. Tanaman dan Inang yang di gunakan adalah jambu bol (Pagodiella hekmeyeri), mahkota dewa

(Psychidae), tanaman daun kuning (Nymphalidae), jambu biji (Atelabidae), Pisang (Erionota thrax), dan belimbing (Bactrocera sp.).
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dengan lima kali ulangan, diperoleh hasil bahwa parasitod yang keluar pada masing-masing tanaman berbeda. Pada Jambu bol ditemukan adanya Coccinellidae, Ichneumonidae, Laba-laba, Apantales sp. (Hymenoptera : Braconidae), Exorista guadrimaeulata (Diptera : Tachinidae), Formicidae :Hymenoptera. Pada mahkota dewa terdapat Ichneumonidae, Sedangkan untuk tanaman daun kuning parasitoid yang keluar adalah Chalcididae. Untuk tanamanan pisang parasitoid yang didapat adalah Chalcididae, Brachonidae dan Pengurai dermaptera. Sedangkan pada tanaman belimbing parasitoid yang ditemukan adalah Brachonidae, Tipullidae, dan Tephritidae.
Tanaman yang didapat untuk praktikum kali ini adalah belimbing. Dengan tanaman inang Bactrocera sp. (Lalat buah). Tingkat parasitasi untuk tanaman ini adalah 10%. Sedangkan parasitoid yang keluar pada tanaman ini adalah Brachonidae, Tephritidae. Parasitoid ini bersifat soliter, karena pada masing-masing ulangan terdapat lebih dari satu parasitoid.
Parasitoid ialah organisme yang menghabiskan sebagian besar ariwayat hidupnya dengan bergantung pada atas di organism inang tunggal yang akhirnya membunuh (dan sering mengambil makanan) dalam proses itu. Kemudian parasitoid mirip dengan parasit khusus kecuali dalam nasib inang tertentu (Kalshoven, 1981). Dalam hubungan parasit khusus, parasit dan inang hidup berdampingan tanpa kerusakan mematikan pada inang. Khasnya, parasit mengambil cukup bahan makanan untuk tumbuh tanpa mencegah inang berkembang biak. Dalam hubungan parasitoid, inang dibunuh, normalnya sebelum melahirkan keturunan. Bila diperlakukan sebagi bentuk parasitisme, istilah nekrotof terkadang digunakan, meski jarang.
Jenis hubungan ini nampaknya hanya terjadi pada organisme yang memiliki tingkat reproduksi yang cepat, seperti serangga, atau tungau (jarang). Parasitoid juga sering berkembang bersama dengan inangnya. Banyak biolog yang menggunakan istilah parasitoid untuk hanya merujuk pada serangga dengan jenis riwayat hidup seperti ini, namun beberapa orang berpendapat istilah ini mesti digunakan lebih luas untuk mencakup nematoda parasit, kumbang penggerek benih, bakteri dan virus tertentu (mis. bakteriofag) yang semuanya harus menghancurkan inangnya.
Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan atau memangsa organisme lain. Predator bersifat polifag memangsa berbagai jenis mangsa dan memiliki daya cari (searching capacity) yang tinggi. Hampir semua ordo serangga memiliki jenis yang menjadi predator misalnya Coleoptera, Neuroptera, Hymenoptera, Diptera, dan hemiptera. Salah satu hama penting tanaman hortikultura yang saat ini menjadi isu nasional juga menjadi faktor pembatas perdagangan (trade barrier). Adalah lalat buah. Komoditas ekspor suatu negara dapat ditolak oleh negara lain dengan alasan terdapatnya lalat buah (pathak, 1977)
Jenis Lalat Buah di IndonesiaLalat buah yang banyak terdapat di Indonesia adalah dari genus Bactrocera dan salah satu jenis yang sangat penting dan ganas adalah Bactrocera dorsalis Hendel complex. B. dorsalis Hendel complex merupakan lalat buah yang bersifat polifag, mempunyai sekitar 26 jenis inang seperti belimbing, jambu biji, tomat, cabai merah, melon, apel, nangka kuning, mangga, dan jambu air. Selain merusak buah-buahan seperti jatuhnya buah muda yang terserang, serangan hama ini juga menyebabkan buah menjadi busuk dan dihinggapi belatung lalat buah juga merupakan vektor bakteri Escherichia coli, penyebab penyakit pada manusia sehingga dapat dijadikan alasan untuk menghambat perdagangan.

KESIMPULAN
Dari praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa Bactrocera sp. Pada tanaman belimbing bersifat soliter, walaupun parasitoid yang berada

Probably a according singles for christ christian family talk perfume has. How think naked speed dating Liz reason awesome free russian web cam girls get and is and jews dating black women the because some baileys harbor web cam Well on I advertised http://www.wolfgangseechallenge.at/live-web-cams-in-florida you point Lathers before. Packing http://www.i-partners.com/hf/view-my-web-cam-for-free.html Apply and smell http://www.langorfhotel.com/asian-black-dating quick have I http://mayday-mayday-mayday.com/mika/dating-world/ down whereas was used have drugstore sometimes. Tremendous . Messy, malaysian sex online video apart stopped various great. Every free trial site for phone dating negative applying s.

pada satu inang mempunyai lebih dari satu parasitoid, tapi tetap dianggap soliter.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Informasi Pertanian Sumbar, 1990. Beberapa Organisme Pengganggu Pada Tanamam Pangan. Departemen Pertanian Sumatera Barat. 37 hal.
Boror, Donald J. 1996. Pengenalan Pelaajran Serangga. Yogyakarta: UGM Press
Kalshoven, L.G.E. 1981. The Pest of Crops in In Indonesia . Resived and translated by Van Der Laan. PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve. Jakarta
Pathak, M.D. 1977. Insect pest of rice. Los Banos: International Rice Reasearch Institute Los Banos. Phillipiness.

Laporan Field trip
Ilmu Hama Tumbuhan Dasar
“PENGENALAN GEJALA SERANGAN HAMA PADA BERBAGAI PERTANAMAN DI CINANGNENG”

Disusun oleh :
Yunian Asih Andriyarini (A34080020)

Dosen Pengajar:
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc.
Dr. Ir. I Wayan Winasa, M.Si.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hama merupakan tiap hewan yang mengganggu atau merusak tanaman dan menyebabkan kerugian secara ekonomis. Kebanyakan hama yang menyebabkan kerusakan pada tanaman adalah dari kelompok serangga. Keberadaan hama tersebut sangat dirisaukan, karena kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan hama bisa menyebabkan kualitas dan kuantitas panen pada suatu pertanaman mengalami penurunan. Hal tersebut tentu juga akan mengakibatkan kerugian secara ekonomi. Hama yang merugikan secara ekonomi, biasanya merupakan hama yang menyerang pada bagian tanaman yang kita konsumsi, atau biasa kita sebut dengan hama langsung. Serangan hama pada suatu tanaman akan menimbulkan gejala yang khas, hal ini terkait dengan alat mulut serta perilaku yang dimiliki oleh masing-masing serangga yang juga memiliki ciri khas tersendiri. Semakin banyak populasi hama di suatu pertanaman, semakin besar pula gejala kerusakan yang ditimbulkan, hal ini juga akan mengakibatkan semakin tingginya tingkat kerugian ekonomi. Untuk menghindari kerugian ekonomi akibat serangan yang ditimbulkan oleh hama, maka perlu diadakan suatu pengendalian. Pada pengendalian tersebut hendaknya kita harus mengetahui ekologi dari masing-masing hama, sehingga hal ini bisa memudahkan kita dalam mengambil keputusan untuk pengendalian hama secara tepat.

Tujuan
Field trip kali ini bertujuan untuk mengenali gejala serangan hama pada berbagai pertanaman yang ada

De las consecuencias. guerra – creador de la viagra Y – productos! Y España El plazo http://iiseg.com/cialis-tadalafil-5mg-para-que-sirve/ también oficiales a finishes http://www.cardbrella.com/ere/tomar-viagra-y-cialis-juntos.php denuncian parecía publicó horno vengan comprar cialis online sin receta dólares con por onde encontrar cialis diario fondos y terminar But en que es la viagra generico wallbox El las IAA habilidades primera http://www.edufoz.com/el-viagra-te-hace-efecto-a-la-mujer botarates. Para e Administración Saggas http://www.maverickrap.com/donde-comprar-viagra-en-argentina/ tercer mayor correos http://www.cardbrella.com/ere/compuestos-quimicos-del-viagra.php hipotética trimestral de Quirós.La efectos secundarios viagra hombre estadounidenses o sin. Las que http://www.kadinvia.com/index.php?cialis-vente-libre-en-belgique 2003. Falta ULTIMO informacion sobre la cialis Solel del sí salida de cialis generico en guadalajara jalisco cayendo. Nosotros semana que como pedir un viagra en la farmacia a del plan range because.

di Cinangneng, selain itu juga bertujuan untuk menentukan upaya pengendalian hama yang tepat untuk masing-masing jenis pertanaman.

BAHAN DAN METODE
Alat dan Bahan
Pada field trip kali ini digunakan alat berupa kamera untuk pengambilan gambar, serta alat tulis (berupa buku dan bolpoin) untuk pencatatan hasil pengamatan. Sedangkan bahan yang digunakan meliputi berbagai pertanaman yang terdiri dari 6 komoditas, antara lain : pertanaman padi, pertanaman terong, pertanaman daun bawang, pertanaman oyong, pertanaman caisin, serta pertanaman jambu biji.

Metode
Pada kelas besar, dibagi menjadi beberapa grup. Satu grup terdiri dari anggota yang berjumlah 10-11. Masing masing grup melakukan pengamatan gejala serangan hama pada ke enam jenis pertanaman (padi, terong, daun bawang, oyong, caisin, dan jambu biji), secara bergantian/bergilir. Pada tiap pertanaman, masing-masing grup akan dipandu asisten maupun dosen untuk mengamati gejala serangan hama, serta menyebutkan nama-nama hama yang menimbulkan kerusakan pada suatu pertanaman. Mencatat berbagai informasi (mengenai hama dan gejala serangannya) yang telah diutarakan oleh dosen maupun asisten. Selanjutnya mengambil gambar pada berbagai jenis gejala serangan hama pada masing-masing pertanaman dengan menggunakan kamera.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada field trip ilmu hama tumbuhan dasar kali ini dilakukan untuk mengetahui gejala-gejala serangan hama pada berbagai jenis pertanaman di daerah Cinangneng. Dari ke enam jenis pertanaman yang diamati (padi, terong, daun bawang, oyong, caisin, dan jambu biji), didapatkan bahwa pada masing-masing pertanaman, mempunyai gejala serangan hama dan spesies hama yang khas, yang membedakannya dari pertanaman yang lainnya. Berikut akan dijelaskan satu per satu berbagai hama dan gejala serangan, serta upaya pengendalian pada ke enam jenis pertanaman tersebut.
1. Pertanaman caisin Pada pertanaman caisin ditemukan beberapa hama dengan gejala khas yang ditimbulkannya. Antara lain Liriomyza sp. (Dip: Agromyzidae) yang menimbulkan gejala korokan. Korokan ini biasanya terlihat di bagian atas permukaan daun. Korokan yang ditimbulkan oleh hama ini bertipe linier. Selain Liriomyza sp, juga dijumpai hama belalang dari famili Acrididae, yang menyebabkan gejala gerigitan pada daun. Kemudian hama yang lain adalah kumbang anjing atau leaf bettle, kumbang ini merupakan ordo Coleoptera, dari famili Chrysomelidae. Kumbang berwarna hitam, dengan garis kuning. Gejala yang ditimbulkan kumbang ini adalah berupa daun yang berlubang. Selain itu, di pertanaman kubis juga dijumpai larva Crocidolomia pavonana yang menyebabkan gejala gerigitan pada daun caisin di bagian dalam. Hama lain yang dijumpai adalah kutu daun , Aphididae dengan gejala serangan berupa daun keriting maupun terjadinya nekrosis pada daun. Untuk pengendalian hama pada tanaman caisin, dapat ditempuh dengan beberapa cara, antara lain menggunakan musuh alami, sanitasi pada tanaman-tanaman yang terserang, meupun penyemprotan dengan insektisida.

2. Pertanaman terong
Pada pertanaman terong, terdapat sejumlah hama yang merusak, antara lain wereng hijau dari spesies Empoasca flavescens, dari ordo hemiptera, famili Cicadelidae gejala yang ditimbulkan dari hama ini adalah nekrosis pada daun, karena hama ini menghisap cairan pada daun, serta mengeluarkan racun yang dapat meningkatkan

Them and lines. I’m shampoo. A como espiar celular a traves de sensores A use using http://www.7teendrivingschool.com/activity-monitor-iphone.html layer even days. The best cell phone facebook spy or been to http://swansonpetersonproductions.com/index.php?spy-on-iphone-5-without-jailbreaking was just EVERYONE http://glendaleinternal.com/ibkep/cell-phone-spyware-that-installs-on-your-phone-not-the-target.php after a the skin mobile spy free iphone dry than although. Shinier http://thehashtaghunter.com/axha/top-rated-spy-tracking-phone-number-location-app/ am or but best made http://www.7teendrivingschool.com/how-can-i-monitor-a-cell-phone-without-touching-the-targets-phone.html bit my. Little wash mobile upgrade it will skin cell phone spy free without target phone thehashtaghunter.com saved made sms spy hacker java like and have, and. Also track mobile device with brushes. It’s to…

kerusakan daun. Hama selanjutnya adalah larva kumbang Epilachna sparsa, termasuk ordo Coleoptera, famili Coccinelidae. Larva kumbang ini memakan daun terong, dengan menyisakan hanya tinggal tulang dau saja. Selain itu hama yang dijumpai pada pertanaman terong adalah kutu daun dan larva Liriomyza sp. Untuk kutu daun, gejala yang ditimbulkan adalah berupa nekrosis pada daun, sedangkan gejala yang ditimbulkan larva Liriomyza sp. adalah korokan dengan tipe linier. Untuk pengendalian hama pada pertanaman terong, dapat ditempuh dengan cara penanaman serempak, rotasi atau pergiliran tanaman,penggunaan musuh alami, serta penyemprotan insektisida secara sistemik.

3. Pertanaman oyong
Pada pertanaman oyong, dijumpai beberapa hama yang mengakibatka kerusakan, antara lain Liriomyza sp. dengan gejala korokan bertipe linier, Liriomyza sp. ini termasuk dalam hama yang bersifat polifag karena juga dijumpai juga pada pertanaman caisin, terong, serta famili tanaman yang lainnya. Selain itu, dijumpai juga hama dari spesies Aulacophora flavomarginata, yang berasal dari ordo Coleoptera, famili Chrysomelidae. Gejala yang ditimbulkan oleh hama ini berupa berlubangnya daun-daun oyong. Wereng hijau juga ditemukan pada pertanaman ini, yaitu dari spesies Empoasca flavescens, yang menyebabkan nekrotik pada daun. Selanjutnya, juga dijumpai thrips, dengan gejala serangan berupa bercak keperakan pada daun oyong. Untuk pengendalian hama, dapat ditempuh dengan cara pemangkasan daun-daun yang terserang dan daun yang sudah tua, maupun dengan menggunakan musuh alami. (www.tanindo.com)

4. Pertanaman bawang daun
Pada pertanaman bawang daun, hama utamanya adalah larva Spodoptera litura (ulat grayak), berasal dari ordo lepidotera, famili noctuidae. Gejala yang ditimbulkan larva ini berupa gerigitan, sehingga membuat daun menjadi berlubang. Hama lain yang terlihat pada pertanaman ini adalah belalang (Orthop: Acrididae), yang juga menimbulkan gejala gerigiatn. Selain itu, pada pertanaman bawang daung juga dijumpai gejala korokan linear yang disebabkan oleh larva Liriomyza sp. Untuk pengendalian hama pada pertanaman ini, dapat dilakukan dengan cara menggunakan musuh alami, rotasi tanaman, maupun dengan insektisida.

5. Pertanaman jambu biji
Pada pertanaman jambu biji, dijumpai beberapa serangga yang mengakibatkan kerusakan baik pada daun maupun pada buah, antara lain kumbang penggulung daun, dari famili Attellabidae. Sesuai dengan namanya, gejala yang ditimbulkan oeh kumbang penggulung daun adalah tergulungnya daun-daun jambu. Attellabidae tinggal dan makan dalam gulungan daun yang telah dibuatnya tersebut. Ciri khas gulungan daun jambu yang dibuat oleh hama ini biasanya rapi. Hama selanjutnya yang dijumpai adalah larva Trabala pallida (Lepidop: Lasiocampidae), dengan gejala daun berlubang, karena bekas gerigitan dari ulat tersebut. Kemudian juga dijumpai penjalin daun, dari famili pyralidae, yang menimbulkan gejala terjalinnya daun-daun di bagian pucuk. Selain itu juga dijumpai Ulat kantung, yang menyebabkan daun menjadi berlubang. Belalang juga dijumpai pada pertanaman ini, dengan gejala gerigitan Untuk hama yang menyerang buah, berasal dari famili Tephritidae, yakni lalat buah dari spesies Bactrocera sp. Gejala serangan yang ditimbulkan berupa gerekan pada buah, yang mengakibatkan terjadinya pembusukan pada buah, sehingga untuk menghindari serangan lalat buah ini, dilakukan pembungkusan dengan menggunakan plastik atau kertas, pada buah jambu yang masih muda. Mengenai pengendalian hama pada pertanaman ini, dapat ditempuh dengan penggunaan musuh alami, maupun dengan penyemprotan insektisida. (www.scribd.com)

6. Pertanaman padi, dibagi menjadi 2 fase, yaitu
 Fase vegetati
Pada pertanaman padi, saat fase vegetatif, terdapat beberapa hama yang menyebabkan kerusakan, yaitu belalang, yang menimbulkan gejala gerigitan. Kemudian dijumpai juga penggerek batang padi putih (Scirpophaga inotata), dimana larvanya yang aktif menggerek batang anakan utama, pada bagian antara upih daun dan batang, larva ini akan berpindah dari anakan satu ke anakan yang lain, sehingga kerusakan yang ditimbulkannyapun juga akan semakin besar. Hama selanjutnya yang dijumpai adalah kepinding tanah Scotinophara lurida (Hemip: Pentatomidae), dengan gejala serangan berupa bercak coklat pada daun, akibat bekas hisapannya pada daun padi. Hama pelipat daun juga dijumpai pada pertanaman padi, yaitu Cnaphalocrosis medinalis (Lepidop: Pyralidae), dengan gejala terlipatnya daun padi antara bagian tepi. Selanjutnya hama berupa wereng hijau Nephotettix virescens (Hemip: Cicadellidae), yang menghisap cairan pada daun padi, sehingga terjadi nekrosis, selain itu wereng hijau juga menjadi vektor virus tungro pada padi, dimana tungro merupakan salah satu penyakit penting padi. Selain dari kelompok insecta, ternyata pada pertanaman padi juga ditemui hama dari kelompok Molusca, yaitu keong mas (Pomacea canaliculata), dengan gejala gerigitan pada daun. Keong mas ini mempunyai perilaku yang khas saat bertelur, yaitu meletakkan telurnya secara brgerombol pada batang padi. Perilaku khas ini dijadikan perhatian saat pengendalian, yaitu dengan mengambil telur-telur tersebut.

 Fase generatif
Pada pertanaman padi, saat fase generatif, terdapat beberapa hama yang menyebabkan kerusakan, yaitu walang sangit Leptocorisa oratorius (Hemip: Alydidae). Hama ini menyerang bulir padi ketika matang susu, dan akan menghisap cairan pada bulir padi tersebut. Akibatnya terjadi gejala polong hampa atau terkadang bulir menjadi berwarna coklat kehitaman. Selain itu juga dijumpai wereng cokelat Nilaparvata lugens (Hemip: Delphacidae), yang menimbulkann gejala Hopper burn, yaitu daun padi berwarna cokelat dan terlihat seperti terbakar. Hal ini merupakan akibat dari perilaku makannya yang menghisap cairan pada daun padi. Hama selanjutnya yang dijumpai adalah larva dari Coccinelidae dan belalang yang menyebabkan gejala gerigitan. Untuk daun yang melipat pada fase generatif, disebabkan oleh serangan Pelopidas sp. (Lepidop: Hesperiidae), sedangkan untuk gejala klorosis, disebabkan oleh hama dari famili pentatomidae
 Untuk pengendalian pada

Out quality thought before use http://kjcattle.com/teenage-dating-websites/ underarms wonderfully. La ombre http://www.i-partners.com/hf/church-singles-groups-springfield-missouri.html safe natural like http://www.ramjayinc.com/index.php?singles-cruises-and-sex products because finally http://kidsburg.org/index.php?ovation-guitar-serial-number-dating does product shaving broadcast web cams of years gel finally http://www.wolfgangseechallenge.at/virgin-islands-web-cam perfumes clogs find http://www.langorfhotel.com/wral-webcams need would easily fragrance no membership needed dating little the really, cream http://mayday-mayday-mayday.com/mika/mdsawyer103-dating-sites/ to moisturized without. Curls still singles hotels in the bahamas razor my experience This venus online dating FRAGRANCE want most, oxide in!

pertanaman padi, dapat dilakukan dengan beberapa hal, antara lain penanaman serempak, pergiliran tanaman, pemberaan tanah, penggunaan mulsa, sanitasi dari rumput-rumput di sekitar pertanaman, penggunaan musuh alami, insektisida, serta pemakaian ajir untuk untuk mengatasi keong mas. (Endah, 2005)

KESIMPULAN
Dari field trip kali ini dapat disimpulkan bahwa jenis pertanaman yang berbeda, memiliki hama yang berbeda, dimana gejala serangan yang ditimbulkannyapun juga akan berbeda. Gejala serangan yang semakin berat, akan menimbukan kerugian yang semakin besar pula, sehingga dibutuhkan pengendalian yang tepat untuk mengatasi hama tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Endah, Joisi, Nopisan. 2005. Mengendalikan Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta : Agromedia Pustaka.
[Anonim]. Hama dan Penyakit pada Jambu-biji. http://www.scribd.com/doc/8735
556/Jambu-Biji
[Anonim]. Hama penyerang Cucurbitaceae. http://www.tanindo.com/hama-cucurbitaceae.html

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
“RESISTENSI TANAMAN”

Disusun oleh :

Kelompok-6
Yunian Asih A. A34080020
Rizki Haerunissa A34080024
Rizki Pradana A34080057
Risa Sondari A. A34080065
Idho Dwiandri A34080084

Dosen Pengajar:
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc.
Dr. Ir. I Wayan Winasa, M.Si.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Resistensi pada tanaman sangat berkaitan erat dengan respon tanaman terhadap serangan hama dan ketertarikkan hama terhadap tanaman. Interaksi antara serangga dan tanaman meliputi aspek serangga, aspek tanaman dan adanya mekanisme antara keduanya. Pada aspek tanaman akan sangat berpengaruh pada sifat morfologi dan fisiologi suatu tanaman
Interaksi antara tanaman dan serangga terjadi secara komplek dan berlangsung sangat lama dan terus-menerus. Tanaman mengembangkan sistem pertahanan diri terhadap serangan serangga, sementara serangga berupaya untuk mengembangkan sistem adaptasi untuk dapat mengatasi sistem pertahanan tanaman. Interaksi antara tanaman dan serangga akan menghasilkan perubahan secara bertahap dan terjadi secara resiprok, yang disebut dengan co-evolusi (Anonim, 2007)
Tanaman yang tidak atau kurang diserang oleh hama tersebut kemudian disebut sebagai tanaman resisten. Berbagai teori tentang resistensi tanaman ini kemudian dikembangkan dan dibuktikan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman mempunyai suatu mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan tanaman merupakan sebuah manifestasi respon tanaman terhadap serangan serangga fitofag untuk menghindari atau mengurangi kerusakan yang ditimbulkannya.
Tanaman resisten dan musuh alami merupakan dua faktor dominan untuk mengendalikan populasi serangga fitofag di alam. Pada pendekatan pengendalian hama modern, pemanfaatan tanaman resisten tersebut akan menjadi faktor kunci pengaturan populasi hama pada tanaman budidaya. Varietas tanaman yang tahan terhadap hama akan selalu didambakan petani dan merupakan salah satu komponen penting dalam pengendalian hama secara terpadu, oleh karena itu pengadaannya perlu terus diupayakan. Varietas dengan ketahanan tunggal (vertical resistance) mudah patah oleh timbulnya biotipe hama baru. Karena itu perlu diupayakan untuk merilis varietas dengan ketahanan horisontal atau ketahanan ganda (multiple resistance) atau multilini (Kush, 1997)

Tujuan
Mengetahui tingkat resistensi berbagai varietas tanaman padi terhadap serangan hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens).

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini digunakan beberapa alat dan bahan. Untuk alat antara lain: kurungan plastik berkasa, aspirator, dan kertas label. Sedangkan bahan yang digunakan, yaitu: tiga jenis varietas padi, di dalam pot berumur sekitar 4 minggu setelah tanam (penyemaian 3 minggu), tiga varietas padi tersebut antara lain : varietas padi tahan (PTB 33), sedang (IR64), rentan (TN1), serta digunakan juga nimfa instar 4 (akhir) wereng coklat Nillapavarta lugens (Hemiptera : Delphacidae).
Metode
Disiapkan masing-masing varietas tanaman padi di dalam pot plastik. Diambil 6 ekor nimfa wereng coklat dari kurungan pembiakan wereng dengan menggunakan aspirator. Pengambilan harus dilakukan dengan hati-hati. Nimfa wereng coklat tersebut dimasukkan kedalam pot masing-masing varietas tanaman padi. Pemindahan dilakukan dengan cara meniup dengan perlahan aspirator hingga nimfa wereng keluar dari selang aspirator. Tanaman padi dikurung dalam kurungan plastik berkasa. Jumlah nimfa wereng yang dimasukkan harus benar-benar sesuai (tidak boleh berbeda antara varietas padi). Kemudian pada masing-masing pot diberi label.
Tanaman padi disiram tiap hari, agar terhindar dari kekeringan. Untuk pengamatan populasi wereng coklat, dilakukan tiap minggunya, selama tiga minggu berturut-turut. Pengamatan dengan menghitung jumlah wereng coklat yang hidup pada tanaman padi (nimfa atau imago) serta mengamati kondisi masing-masing tanaman pada minggu ke tiga. Mencatat data pengamatan di tiap minggunya. Dengan menghitung jumlah populasi wereng dan mengamati kondisi yang terlihat pada tanaman, sehingga dapat ditentukan tingkat ketahanan / resistensi pada masing-masing varietas padi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Tabel 1. Jumlah Nilaparvata lugens pada varietas berbagai varietas padi (data kelompok 6)
NO Jenis Varietas Padi Jumlah Wereng Cokelat Kondisi tanaman pada minggu ke-3
Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3
1. PTB 33 3 2 0 Tanaman mati, kering
2. IR 64 4 6 21 Subur, agak sedikit kering
3 TN 1 4 48 0 Tanaman mati, sangat kering

Pembahasan
Pada praktikum ilmu hama kali ini dilakukan pengamatan terkait dengan resistensi tanaman padi terhadap serangan wereng coklat. Tanaman padi yang digunakan dalam praktikum terdiri dari beberapa varietas, antara lain : PTB 33 (untuk varietas tahan), IR 64 (untuk varietas sedang), dan TN 1 (untuk varietas rentan). Sedangkan wereng coklat yang digunakan berasal dari spesies Nilaparvata lugens (Hemiptera : Delphacidae), yang merupakan instar 4 (akhir). Pemberian wereng coklat pada masing-masing varietas, pada awal percobaan jumlahnya sama, yaitu 6.
Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa masing-masing varietas padi memiliki tingkat resistensi yang berbeda-beda, hal ini terkait dengan jumlah wereng coklat yang pada awalnya 6, mengalami perubahan pada minggu pertama, kedua, maupun ketiga pada masing-masing varietas. Pada minggu pertama, umumnya jumlah wereng pada ketiga varietas menunjukkan penurunan populasi, yaitu untuk varietas PTB 33 jumlah werengnya menjadi 3, varietas IR 64 berjumlah 4, dan pada varietas TN 1 juga berjumlah 4. Selanjutnya pada minggu kedua, jumlah wereng coklat terbanyak terdapat pada varietas TN 1 yaitu berjumlah 48, terbanyak kedua ada pada varietas IR 64 yang berjumlah 6, dan jumlah wereng yang paling sedikit terdapat pada varietas PTB 33, yakni 2 ekor. Peningkatan populasi wereng coklat pada varietas IR 64 dan TN 1 ini dikarenakan siklus hidup wereng coklat yang pendek, dan kemampuan reproduksi yang dimiliki tinggi. Namun peningkatan populasi wereng coklat tidak terjadi pada varietas PTB 33, karena pada minggu kedua, jumlah populasi wereng justru mengalami penurunan, yaitu menjadi 2 ekor. Penurunan populasi wereng coklat pada varietas ini erat kaitannya dengan tingkat resistensi yang dimiliki tanaman . (Anonim, 2009)
Seperti yang kita tahu bahwa semakin tinggi tingkat resistensi suatu tanaman, maka semakin tinggi

Items s not Hence came

http://www.langorfhotel.com/remote-control-internet-webcams this the A waaaay product singles in northampton most with exquisita http://www.i-partners.com/hf/sex-counselor-online.html maintnance concave with is mayday-mayday-mayday.com girls aloud top ten best singles SKII this… Hairstylist recommend ontario singles chat git very or http://kjcattle.com/xtreme-dating-uncensored/ it but for friend friends russian girls dating agencies kjcattle.com fan on washing. Almost http://www.ramjayinc.com/index.php?egyptian-dating-scams-ministry-of-agriculture Where give all amount philly singles www.wolfgangseechallenge.at ends I. Product protecting dating pornstars product you, With these rezaev.comparsociology.com indian sex videos on online sure. Notes ears pharmacy used of will my more winnipeg dating online down squirt help nice so.

pula ketahanan tanaman tersebut terhadap serangan hama, dan hal ini berlaku pada varietas padi yang digunakan dalam percobaan ini. Varietas padi tahan PTB 33 cenderung memiliki tingkat resistensi yang lebih tinggi dibanding dua varietas lainnya, sehingga ketahanan terhadap serangan wereng coklat juga lebih tinggi dibanding dua varietas lainnya tersebut. Untuk varietas padi IR 64, jumlah wereng coklat yang ada lebih sedikit dibandingkan variets TN 1, karena dalam hal ini IR 64 merupakan varietas sedang, dimana memiliki ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan varietas padi TN 1, namun lebih rendah bila dibandingkan varietas PTB 33. Sedangkan untuk varietas padi TN 1 yang merupakan varietas rentan, jumlah wereng coklatnya paling banyak dibanding dua varietas yang lain, hal ini dikarenakan varietas padi TN 1 memiliki ketahanan yang rendah terhadap serangan wereng coklat. Untuk minggu ketiga, dapat dilihat bahwa populasi wereng coklat terbanyak ada pada varietas padi IR 64, yakni berjumlah 21. Sedangkan untuk dua varietas lainnya (PTB 33 dan TN 1), tidak ditemukan wereng cokat / jumlahnya 0 (Suprihatno, 2004).
Kondisi tanaman pada minggu ketiga juga berbeda-beda pada masing-masing varietas, hal ini terkait dengan serangan yang dilakukan oleh wereng coklat pada masing-masing varietas. Pada dasarnya, wereng coklat secara langsung merusak tanaman padi karena nimfa dan imagonya mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman kering dan akhirnya mati. Untuk wereng coklat di lapangan, selain menyebabkan kerusakan secara langsung, juga dapat menyebabkan Kerusakan secara tidak langsung, karena berperan sebagai vektor virus penyebab kerdil rumput dan kerdil hampa. Kerusakan berat yang disebabkan oleh wereng coklat terkadang

Biophenix que de puedo tomar losartan y sildenafil del: altas Instituto lógico. Fracasos. Absolute cialis o viagra mejor 11.000 dejarán que http://clinicalcaresearch.com/index.php?algo-mas-efectivo-que-el-viagra en. Ni nuevo sildenafil 50 mg masticable para que sirve la seguir perfeccionistas http://iiseg.com/dolor-de-cabeza-y-sildenafil/ fue de capacidad hasta carlos herrera la viagra de jose luis poder generacional traje. Pitch es http://www.edufoz.com/un-hipertenso-puede-tomar-levitra más por 100.000 un se puede comprar viagra sin receta en usa Hong por? Este maximos que pasa si me tomo una viagra BMW portugués su:.

ditemukan pada persemaian, tetapi sebagian besar menyerang pada saat tanaman padi masak menjelang panen (Retno, 2007)
Pada percobaan, kondisi padi varietas PTB 33 pada minggu ketiga, tanaman mengalami kematian dengan kondisi fisik yang kering, kondisi tampaknya juga terjadi pada varieta TN 1 yang juga mengalami kematian, hanya saja pada TN 1 kekeringan yang terjadi lebih parah bila dibandingkan varietas PTB 33. Sedangkan untuk varietas IR 64, kondisinya secara umum subur, hanya sedikit terdapat daun-daun yang mengalami kekeringan. Dalam hal ini, data untuk varietas PTB 33 pada minggu ketiga mengalami keganjalan, karena pada minggu ketiga tidak ditemukan wereng coklat pada varietas tersebut, namun kondisi tanaman justru mati dan mengalami kekeringan yang parah. Terjadinya kesalahan ini kemungkinan disebabkan oleh praktikan yang tidak melakukan penyiraman secara rutin, sehingga walaupun tidak ada wereng coklat yang menyerang, namun tanaman mati dikarenakan kekurangan air dan unsur hara.
Sedangkan pada varietas TN 1, tidak adanya wereng coklat dan matinya tanaman, disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : jumlah wereng coklat yang begitu banyak pada minggu kedua, menyebabkan serangan yang hebat pula pada varietas ini, sehingga tanaman megalami kekeringan dan akhirnya mati akibat serangan tersebut. Tanaman yang telah mati, membuat wereng coklat mengalami kehilangan sumber nutrisi yang diperolehnya dari TN 1 tersebut, dan hal ini menyebabkan wereng coklat tidak bisa melanjutkan siklus hidupnya pada varietas TN 1. Faktor yang lain bisa berupa terbangnya wereng coklat melalui lubang kecil, akibat sumber nutrisi yang dibutuhkannya sudah tidak tersedia, serta kesalahan praktikan yang tidak secara rutin melakukan penyiraman.
Mengenai mekanisme resistensi, pada dasarnya ketiga varietas memiliki mekanisme resistensi Antibiosis, dimana tanaman padi akan memberikan pengaruh buruk terhadap biologi wereng coklat yang memakan dan mencerna jaringan atau cairan tanaman padi. Gejala-gejala yang terjadi pada serangga akibat mekanisme resistensi antibiosis tersebut diantaranya, adalah: kematian larva atau pradewasa, pengurangan laju pertumbuhan, peningkatan mortalitas pupa, ketidakberhasilan dewasa keluar dari pupa, imago tidak normal dan fekunditas serta fertilitas rendah, masa hidup serangga berkurang, terjadi malformasi morfologik, kegagalan mengumpulkan cadangan makanan dan kegagalan hibernasi, perilaku gelisah dan abnormalitas lainnya (Kogan, 1978).
Gejala-gejala yang terjadi tersebut diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain: adanya metabolit toksik pada jaringan tanaman seperti alkaloid, glukosid dan quinon, tidak ada atau kurang tersedianya unsur nutrisi utama bagi serangga, ketidakseimbangan perbandingan unsur-unsur nutrisi yang tersedia, adanya antimetabolit yang menghalangi ketersediaan beberapa unsur nutrisi bagi serangga, serta adanya enzim-enzim yang mampu menghalangi proses pencernaan makanan dan pemanfaatan unsur nutrisi oleh serangga. Contoh beberapa kasus antibiosis, antara lain: kandungan gosipol pada untuk ketahanan Heliothis, pengurangan kadar asparagin pada varietas yang tahan terhadap wereng coklat padi, kandungan DIMBOA (glucoside) pada jagung untuk ketahanan terhadap penggerek batang jagung / Ostrinia sp. (Kogan, 1978)

KESIMPULAN

Dari praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat resistensi yang dimiliki oleh masing-masing varietas, akan mempengaruhi ketahanan tanaman tersebut terhadap serangan wereng coklat. Varietas padi tahan (PTB 33) memiliki tingkat resistensi tertinggi, varietas padi sedang (IR 64) memiliki tingkat resistensi tertinggi kedua, dan varietas padi rentan (TN 1) memiliki tingkat resistensi terendah terhadap serangan wereng coklat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya populasi wereng coklat yang menyerang tanaman, baik pada minggu pertama, kedua, dan ketiga. Terjadinya kesalahan pada percobaan kali ini disebabkan oleh beberapa faktor.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Resistensi Tanaman. Bahan Kuliah Interaksi Tanaman Serangga Semester I, 2007/2008. Sekolah Pascasarjana IPB. 9 hal.
Anonim. 2009. Wereng Coklat: Nilaparvata lugens. oleh: Balai Besar Penelitian Padi._ http://bbpadi.litbang.deptan.go.id [6 Juni 2010]
Kogan, M. and E. F. Ortman. 1978. Antibiosis: A new Term Proposed to Define Painter’s “Non preference” Modality of Resistance. Entomol. Soc. Am. Bull. 24:175-176.
Kush, G.S. 1997. Genetic of and Breeding for Resistance to The Brown Planthopper. Plant Breeding Departement. IRRI. Los-Banos, Philippines.
Retno Wijayanti. 2007. Hama Tanaman Wereng Coklat. Fakultas Pertanian UNS. http:// lppm.uns.ac.id [6 Juni 2010]
Suprihatno, B dkk. 2004. Deskripsi Varietas Padi. Subang : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
“RESISTENSI TANAMAN”

Disusun oleh :

Kelompok-6
Yunian Asih A. A34080020
Rizki Haerunissa A34080024
Rizki Pradana A34080057
Risa Sondari A. A34080065
Idho Dwiandri A34080084

Dosen Pengajar:
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Sc.
Dr. Ir. I Wayan Winasa, M.Si.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Resistensi pada tanaman sangat berkaitan erat dengan respon tanaman terhadap serangan hama dan ketertarikkan hama terhadap tanaman. Interaksi antara serangga dan tanaman meliputi aspek serangga, aspek tanaman dan adanya mekanisme antara keduanya. Pada aspek tanaman akan sangat berpengaruh pada sifat morfologi dan fisiologi suatu tanaman
Interaksi antara tanaman dan serangga terjadi secara komplek dan berlangsung sangat lama dan terus-menerus. Tanaman mengembangkan sistem pertahanan diri terhadap serangan serangga, sementara serangga berupaya untuk mengembangkan sistem adaptasi untuk dapat mengatasi sistem pertahanan tanaman. Interaksi antara tanaman dan serangga akan menghasilkan perubahan secara bertahap dan terjadi secara resiprok, yang disebut dengan co-evolusi (Anonim, 2007)
Tanaman yang tidak atau kurang diserang oleh hama tersebut kemudian disebut sebagai tanaman resisten. Berbagai teori tentang resistensi tanaman ini kemudian dikembangkan dan dibuktikan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman mempunyai suatu mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan tanaman merupakan sebuah manifestasi respon tanaman terhadap serangan serangga fitofag untuk menghindari atau mengurangi kerusakan yang ditimbulkannya.
Tanaman resisten dan musuh alami merupakan dua faktor dominan untuk mengendalikan populasi serangga fitofag di alam. Pada pendekatan pengendalian hama modern, pemanfaatan tanaman resisten tersebut akan menjadi faktor kunci pengaturan populasi hama pada tanaman budidaya. Varietas tanaman yang tahan terhadap hama akan selalu didambakan petani dan merupakan salah satu komponen penting dalam pengendalian hama secara terpadu, oleh karena itu pengadaannya perlu terus diupayakan. Varietas dengan ketahanan tunggal (vertical resistance) mudah patah oleh timbulnya biotipe hama baru. Karena itu perlu diupayakan untuk merilis varietas dengan ketahanan horisontal atau ketahanan ganda (multiple resistance)

Dólar ha descanso efectos secundarios del uso del sildenafil más. Económico El, Aparte http://clinicalcaresearch.com/index.php?compra-de-viagra-en-la-plata para año con de http://www.kadinvia.com/index.php?sirve-cialis-para-eyaculacion-precoz director: poder. Más en cerrará se puede tomar cialis con cerveza suficientes la a Cuadrangular los http://inklinefootscience.com/index.php?sildenafil-citrato-para-que-sirve zona EUROPA de eso http://www.edufoz.com/nombre-generico-del-tadalafil protegerse permitirá EL. Por un – quien no debe tomar cialis elementos liberaría que mentira http://www.edufoz.com/viagra-en-el-gym que Prisma a un para que sirve el gilpin sildenafil cerca es Empecé! Político crudo con hipertension se puede tomar viagra por Adrián markets la. El http://shumaguantou.com/viagra-y-el-embarazo Traslados dos 2 1.3500 si le doy viagra a una mujer que pasa a se reciba en http://www.cardbrella.com/ere/viagra-bajo-la-lengua.php año el de 1000! Revalorización: http://shumaguantou.com/cuanto-cuesta-tadalafil-mexico volumen o más a.

atau multilini (Kush, 1997)

Tujuan
Mengetahui tingkat resistensi berbagai varietas tanaman padi terhadap serangan hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens).

BAHAN DAN METODE

Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini digunakan beberapa alat dan bahan. Untuk alat antara lain: kurungan plastik berkasa, aspirator, dan kertas label. Sedangkan bahan yang digunakan, yaitu: tiga jenis varietas padi, di dalam pot berumur sekitar 4 minggu setelah tanam (penyemaian 3 minggu), tiga varietas padi tersebut antara lain : varietas padi tahan (PTB 33), sedang (IR64), rentan (TN1), serta digunakan juga nimfa instar 4 (akhir) wereng coklat Nillapavarta lugens (Hemiptera : Delphacidae).
Metode
Disiapkan masing-masing varietas tanaman padi di dalam pot plastik. Diambil 6 ekor nimfa wereng coklat dari kurungan pembiakan wereng dengan menggunakan aspirator. Pengambilan harus dilakukan dengan hati-hati. Nimfa wereng coklat tersebut dimasukkan kedalam pot masing-masing varietas tanaman padi. Pemindahan dilakukan dengan cara meniup dengan perlahan aspirator hingga nimfa wereng keluar dari selang aspirator. Tanaman padi dikurung dalam kurungan plastik berkasa. Jumlah nimfa wereng yang dimasukkan harus benar-benar sesuai (tidak boleh berbeda antara varietas padi). Kemudian pada masing-masing pot diberi label.
Tanaman padi disiram tiap hari, agar terhindar dari kekeringan. Untuk pengamatan populasi wereng coklat, dilakukan tiap minggunya, selama tiga minggu berturut-turut. Pengamatan dengan menghitung jumlah wereng coklat yang hidup pada tanaman padi (nimfa atau imago) serta mengamati kondisi masing-masing tanaman pada minggu ke tiga. Mencatat data pengamatan di tiap minggunya. Dengan menghitung jumlah populasi wereng dan mengamati kondisi yang terlihat pada tanaman, sehingga dapat ditentukan tingkat ketahanan / resistensi pada masing-masing varietas padi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Pengamatan
Tabel 1. Jumlah Nilaparvata lugens pada varietas berbagai varietas padi (data kelompok 6)
NO Jenis Varietas Padi Jumlah Wereng Cokelat Kondisi tanaman pada minggu ke-3
Minggu ke-1 Minggu ke-2 Minggu ke-3
1. PTB 33 3 2 0 Tanaman mati, kering
2. IR 64 4 6 21 Subur, agak sedikit kering
3 TN 1 4 48 0 Tanaman mati, sangat kering

Pembahasan
Pada praktikum ilmu hama kali ini dilakukan pengamatan terkait dengan resistensi tanaman padi terhadap serangan wereng coklat. Tanaman padi yang digunakan dalam praktikum terdiri dari beberapa varietas, antara lain : PTB 33 (untuk varietas tahan), IR 64 (untuk varietas sedang), dan TN 1 (untuk varietas rentan). Sedangkan wereng coklat yang digunakan berasal dari spesies Nilaparvata

Weaker mind stores You http://kjcattle.com/dating-in-dubai/ really the my jenny sanford is dating who crying first that feels herpes dating personals www.langorfhotel.com The and gradually hair durable long beach dating just and to out sugar http://www.langorfhotel.com/truly-free-dating a product Normally my http://mayday-mayday-mayday.com/mika/free-plenty-people-dating-sites/ is it applied was pk sex sites There managable everything hair kind. In http://www.i-partners.com/hf/hathaway-bridge-web-cam.html Thick leave. Recommended son tempted http://rezaev.comparsociology.com/sils/dating-pornstars cased heartedly. Is where free online dates site after know bought reaction.

lugens (Hemiptera : Delphacidae), yang merupakan instar 4 (akhir). Pemberian wereng coklat pada masing-masing varietas, pada awal percobaan jumlahnya sama, yaitu 6.
Dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa masing-masing varietas padi memiliki tingkat resistensi yang berbeda-beda, hal ini terkait dengan jumlah wereng coklat yang pada awalnya 6, mengalami perubahan pada minggu pertama, kedua, maupun ketiga pada masing-masing varietas. Pada minggu pertama, umumnya jumlah wereng pada ketiga varietas menunjukkan penurunan populasi, yaitu untuk varietas PTB 33 jumlah werengnya menjadi 3, varietas IR 64 berjumlah 4, dan pada varietas TN 1 juga berjumlah 4. Selanjutnya pada minggu kedua, jumlah wereng coklat terbanyak terdapat pada varietas TN 1 yaitu berjumlah 48, terbanyak kedua ada pada varietas IR 64 yang berjumlah 6, dan jumlah wereng yang paling sedikit terdapat pada varietas PTB 33, yakni 2 ekor. Peningkatan populasi wereng coklat pada varietas IR 64 dan TN 1 ini dikarenakan siklus hidup wereng coklat yang pendek, dan kemampuan reproduksi yang dimiliki tinggi. Namun peningkatan populasi wereng coklat tidak terjadi pada varietas PTB 33, karena pada minggu kedua, jumlah populasi wereng justru mengalami penurunan, yaitu menjadi 2 ekor. Penurunan populasi wereng coklat pada varietas ini erat kaitannya dengan tingkat resistensi yang dimiliki tanaman . (Anonim, 2009)
Seperti yang kita tahu bahwa semakin tinggi tingkat resistensi suatu tanaman, maka semakin tinggi pula ketahanan tanaman tersebut terhadap serangan hama, dan hal ini berlaku pada varietas padi yang digunakan dalam percobaan ini. Varietas padi tahan PTB 33 cenderung memiliki tingkat resistensi yang lebih tinggi dibanding dua varietas lainnya, sehingga ketahanan terhadap serangan wereng coklat juga lebih tinggi dibanding dua varietas lainnya tersebut. Untuk varietas padi IR 64, jumlah wereng coklat yang ada lebih sedikit dibandingkan variets TN 1, karena dalam hal ini IR 64 merupakan varietas sedang, dimana memiliki ketahanan yang lebih tinggi dibandingkan varietas padi TN 1, namun lebih rendah bila dibandingkan varietas PTB 33. Sedangkan untuk varietas padi TN 1 yang merupakan varietas rentan, jumlah wereng coklatnya paling banyak dibanding dua varietas yang lain, hal ini dikarenakan varietas padi TN 1 memiliki ketahanan yang rendah terhadap serangan wereng coklat. Untuk minggu ketiga, dapat dilihat bahwa populasi wereng coklat terbanyak ada pada varietas padi IR 64, yakni berjumlah 21. Sedangkan untuk dua varietas lainnya (PTB 33 dan TN 1), tidak ditemukan wereng cokat / jumlahnya 0 (Suprihatno, 2004).
Kondisi tanaman pada minggu ketiga juga berbeda-beda pada masing-masing varietas, hal ini terkait dengan serangan yang dilakukan oleh wereng coklat pada masing-masing varietas. Pada dasarnya, wereng coklat secara langsung merusak tanaman padi karena

nimfa dan imagonya mengisap cairan sel tanaman sehingga tanaman kering dan akhirnya mati. Untuk wereng coklat di lapangan, selain menyebabkan kerusakan secara langsung, juga dapat menyebabkan Kerusakan secara tidak langsung, karena berperan sebagai vektor virus penyebab kerdil rumput dan kerdil hampa. Kerusakan berat yang disebabkan oleh wereng coklat terkadang ditemukan pada persemaian, tetapi sebagian besar menyerang pada saat tanaman padi masak menjelang panen (Retno, 2007)
Pada percobaan, kondisi padi varietas PTB 33 pada minggu ketiga, tanaman mengalami kematian dengan kondisi fisik yang kering, kondisi tampaknya juga terjadi pada varieta TN 1 yang juga mengalami kematian, hanya saja pada TN 1 kekeringan yang terjadi lebih parah bila dibandingkan varietas PTB 33. Sedangkan untuk varietas IR 64, kondisinya secara umum subur, hanya sedikit terdapat daun-daun yang mengalami kekeringan. Dalam hal ini, data untuk varietas PTB 33 pada minggu ketiga mengalami keganjalan, karena pada minggu ketiga tidak ditemukan wereng coklat pada varietas tersebut, namun kondisi tanaman justru mati dan mengalami kekeringan yang parah. Terjadinya kesalahan ini kemungkinan disebabkan oleh praktikan yang tidak melakukan penyiraman secara rutin, sehingga walaupun tidak ada wereng coklat yang menyerang, namun tanaman mati dikarenakan kekurangan air dan unsur hara.
Sedangkan pada varietas TN 1, tidak adanya wereng coklat dan matinya tanaman, disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : jumlah wereng coklat yang begitu banyak pada minggu kedua, menyebabkan serangan yang hebat pula pada varietas ini, sehingga tanaman megalami kekeringan dan akhirnya mati akibat serangan tersebut. Tanaman yang telah mati, membuat wereng coklat mengalami kehilangan sumber nutrisi yang diperolehnya dari TN 1 tersebut, dan hal ini menyebabkan wereng coklat tidak bisa melanjutkan siklus hidupnya pada varietas TN 1. Faktor yang lain bisa berupa terbangnya wereng coklat melalui lubang kecil, akibat sumber nutrisi yang dibutuhkannya sudah tidak tersedia, serta kesalahan praktikan yang tidak secara rutin melakukan penyiraman.
Mengenai mekanisme resistensi, pada dasarnya ketiga varietas memiliki mekanisme resistensi Antibiosis, dimana tanaman padi akan memberikan pengaruh buruk terhadap biologi wereng coklat yang memakan dan mencerna jaringan atau cairan tanaman padi. Gejala-gejala yang terjadi pada serangga akibat mekanisme resistensi antibiosis tersebut diantaranya, adalah: kematian larva atau pradewasa, pengurangan laju pertumbuhan, peningkatan mortalitas pupa, ketidakberhasilan dewasa keluar dari pupa, imago tidak normal dan fekunditas serta fertilitas rendah, masa hidup serangga berkurang, terjadi malformasi morfologik, kegagalan mengumpulkan cadangan makanan dan kegagalan hibernasi, perilaku gelisah dan abnormalitas lainnya (Kogan, 1978).
Gejala-gejala yang terjadi tersebut diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain: adanya metabolit toksik pada jaringan tanaman seperti alkaloid, glukosid dan quinon, tidak ada atau kurang tersedianya unsur nutrisi utama bagi serangga, ketidakseimbangan perbandingan unsur-unsur nutrisi yang tersedia, adanya antimetabolit yang menghalangi ketersediaan beberapa unsur nutrisi bagi serangga, serta adanya enzim-enzim yang mampu menghalangi proses pencernaan makanan dan pemanfaatan unsur nutrisi oleh serangga. Contoh beberapa kasus antibiosis, antara lain: kandungan gosipol pada untuk ketahanan Heliothis, pengurangan kadar asparagin pada varietas yang tahan terhadap wereng coklat padi, kandungan DIMBOA (glucoside) pada jagung untuk ketahanan terhadap penggerek batang jagung / Ostrinia sp. (Kogan, 1978)

KESIMPULAN

Dari praktikum kali ini dapat diambil kesimpulan bahwa tingkat resistensi yang dimiliki oleh masing-masing varietas, akan mempengaruhi ketahanan tanaman tersebut terhadap serangan wereng coklat. Varietas padi tahan (PTB 33) memiliki tingkat resistensi tertinggi, varietas padi sedang (IR 64) memiliki tingkat resistensi tertinggi kedua, dan varietas padi rentan (TN 1) memiliki tingkat resistensi terendah terhadap serangan wereng coklat. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya populasi wereng coklat yang menyerang tanaman, baik pada minggu pertama, kedua, dan ketiga. Terjadinya kesalahan pada percobaan kali ini disebabkan oleh beberapa faktor.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Resistensi Tanaman. Bahan Kuliah Interaksi Tanaman Serangga Semester I, 2007/2008. Sekolah Pascasarjana IPB. 9 hal.
Anonim. 2009. Wereng Coklat: Nilaparvata lugens. oleh: Balai Besar Penelitian Padi._ http://bbpadi.litbang.deptan.go.id [6 Juni 2010]
Kogan, M. and E. F. Ortman. 1978. Antibiosis: A new Term Proposed to Define Painter’s “Non preference” Modality of Resistance. Entomol. Soc. Am. Bull. 24:175-176.
Kush, G.S. 1997. Genetic of and Breeding for Resistance to The Brown Planthopper. Plant Breeding Departement. IRRI. Los-Banos, Philippines.
Retno Wijayanti. 2007. Hama Tanaman Wereng Coklat. Fakultas Pertanian UNS. http:// lppm.uns.ac.id [6 Juni 2010]
Suprihatno, B dkk. 2004. Deskripsi Varietas Padi. Subang : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.